Sabtu, 15 September 2012

Harga Sebuah Penyesalan

0 komentar

"Kisah Anjing yang Setia"


Sepasang suami istri yang sudah dikaruniai seoarang anak berumur 1 th, disamping itu mereka juga memelihara seekor anjing yang  sangat setia kepada tuannya.

Sejak dari mereka masih pacaran sampai dikaruniai anak, anjing inilah yang menjadi bagian dalam hidup mereka. Sebagai teman bermain sekaligus pelindung keluarga.

Suatu hari ketika kedua suami istri keluar rumah dan meninggalkan anak mereka bersama dengan anjing peliharaannya, namun sebelum mereka pergi mereka lupa memberi makan anjing tersebut.

Saat mereka pulang, dikejutkan dengan tetesan darah yang berserakan dilantai. Rasa kaget, takut, khawatir bercampur aduk dalam benak mereka dan mereka langsung berlari menuju kamar.

Di depan pintu kamar, terlihat anjing peliharaannya duduk dengan mulut yang masih meneteskan darah segar. Dengan histeris kedua suami istri itu berteriak. Si istri terduduk lemas dengan isak tangis, sedangkan sang suami langsung mengambil kursi yang ada di ruangan dan menghantamkannya bertubi-tubi ke kepala anjing peliharaannya itu, sehingga anjingnya mati.

Dengan perasaan hancur dan tangis uyang semakin menjadi, kedua suami istri pun berpelukan. Dalam hati mereka tidak menyangka telah kehilangan sang buah hati dan anjing peliharaan kesayangnnya secara bersamaan. Dengan langkah lunglai keduanya memasuki kamar.

Sampai dikamar, mereka kaget saat anak mereka terditur pulas di atas ranjang, sedangkan disamping ranjang tergeletak seekor ular yang sudah mati berlumuran darah.

Mereka baru sadar ternyata anjing peliharaannnya itu telah melindungi anak mereka dari ancaman ular. Mereka sangat menyesali apa yang telah mereka perbuat, tetapi apa mau dikata semuanya sudah terlambat….

Pesan Moral
“Janganlah ceroboh dalam bertindak, karena penyesalan selalu datang kemudian


read more

Kisah Uang Seribu dengan Seratus Ribu

0 komentar

Kisah uang Rp 1000 dengan uang Rp 100000

Uang Rp 1000 dan Rp 10000 kini dicetak dan disebarkan oleh Bank Indonesia (BI). Ketika dicetak mereka berdua bersamaan, namun terpisah setelah disebarkan dan beredar ke masyarakat.



Bagaimanapun, setelah beberapa bulan kemudian mereka bertemu kembali secara tidak sengaja di dalam dompet seorang pemuda dan mereka pun ngobrol-ngobrol,,,

Rp 100000      : “haaii.. kenapa badanmu begitu lusuh, kotor dan berbau amis??”
Rp 1000         : “kerena semenjak aku keluar dri bank, aku terus dibawa ke tangan orang buruh, penjual ikan dan ke tangan pengemis”

Lalu Rp 1000 punbertanya balik kepada Rp 100000

Rp 1000          : “kamu kenapa kelihatan begitu baru, rapi dan masih bagus??”
Rp 100000    : “karena semenjak aku keluar dari bank, terus disambut perempuan cantik, beredarpun di    restoran mahal, di kompleks mewah dan di hotel berbintang, serta keberadaan ku selalu dijaga dan jarang keluar dari dompet”
Rp 1000          : “pernahkah engkau berada di tempat ibadah??”
Rp 100000      : “belum pernah”

Lalu dengan berbangga hati Rp 1000 pun berkata

Rp 1000        : “untuk kamu ketahui walaupun aku hanya RP 1000, tetapi aku selalu berada di seluruh tempat ibadah dan di tangan-tangan anak yatim serta fakir miskin bahkan aku selalu bersyukur kepada Tuhan, aku tidak dipandang sebagai sebuah nilai, tapi sebuah manfaat!!!!”

Akhirnya menangislah uang Rp 100000 karena merasa bangga, hebat tetapi tidak begitu bermanfaat selama ini”


PESAN MORAL
bukan berapa besar hasil pendapatan kita, tetapi seberapa besar manfaat hasil pendapatan kita yang berguna di jalan yang benar”



read more